GOBLOK Oleh: Andi Ade Lepu *)
INDEPENDEN.CO.ID Tiba-tiba Presiden Prabowo menggelegarkan frasa ini saat pidato di acara PAN: "banyak yang mengaku pakar tapi Goblok!" Riuh tepuk tangan, bahkan Zulkifli Hasan, Sang Ketum, tertawa terpingkal-pingkal.
Sebenarnya kita tak terlalu kaget mendengarnya. Pendahulunya, Jokowi alias Mulyono sudah pernah mengeluarkan banyak istilah yang jauh lebih horor: Sonyoloyo, Genderuwo, sudah tapi belum, dan macam-macam lainnya yang sejenis.
Lalu, apa yang menarik dari istilah-istilah itu? Ternyata jika kita baca kebiasaan berbicara presiden-presiden kita sebelumnya, masing-masing memiliki warisan istilah atau kata-kata khas. Kita mulai dari Bung Karno. Banyak sekali istilah-istilah beliau yang masih membekas dalam memori kita hari ini. Nekolim, Nasakom, Jasmerah dll. Istilah dalam bentuk akronim itu rata-rata mengandung pesan ajaran, ideologi, dan muatan filosofis. Dari sini kita tahu posisi kelas Bung Karno yang melampaui zaman. Bung Karno menyejarah dengan legacy nilai-nilai yang terus menjadi perbincangan hari ini.
Lalu, Pak Harto dengan Orde Baru-nya. Bapak Pembangunan ini tak kalah produktifnya dalam menciptakan singkatan-singkatan. Terdengar kadang aneh namun menunjukkan konsistensi konten sebuah program. Ipoleksosbud, Repelita, Kopkamtib, dll. Seperti halnya Si Bung, Pak Harto membuat peristilahan dengan tekanan pada corak visi misi program kepemimpinan. Akronim-akronim Pak Harto menjadi tema besar, menjadi obyek disertasi, diteliti banyak orang, dan menjadi rujukan.
Selanjutnya kita bisa menulis presiden-presiden berikutnya. BJ. Habibie dengan "Iptek-Imtaqnya", Gua Dur dengan "gitu aja kok repot", SBY dengan "saya prihatin", Megawati dengan "petugas partai-nya". Pendeknya semua mewariskan kata atau kalimat yang khas. Kadang dengan makna diperluas, atau dipersempit. Terlalu panjang jika diuraikan di sini.
Satu kesimpulan kita adalah semua istilah atau jargon-jargon itu menunjukkan warna kepemimpinan si empunya kata. Bung Karno yang ideologis, Pak Harto yang efektif, Habibie yang saintis, Gus Dur yang simplifikatif, Megawati yang proletaris, dan SBY yang empatis.
Maka jika kita runut ulang dan komparasikan dengan kalimat-kalimat dua pemimpin kita yang terakhir, Jokowi dan Prabowo; betapa masygulnya. Degradasi nilai itu begitu jomplang dan ekstrim. Coba kita bandingkan, dari Jasmerah turun ke goblok atau emang gua pikirin. Atau dari Repelita Tinggal Landas menukik jadi sontoloyo atau sudah tapi belum.
Kembali ke goblok-nya Prabowo. Di kalangan awam (rakyat biasa) istilah ini bukan sekadar kata kasar. Tapi juga adalah gelar, yakni julukan kepada orang yang dianggap dungu atau bebal, yaitu orang yang tidak hanya tidak tahu tapi juga tak mau tahu. Jadi bisa juga disebut sebagai umpatan kejengkelan.
Di kehidupan sehari-hari, sebenarnya kalau mau jujur, kita semua pernah menjadi goblok jika pengertian goblok adalah ketidaktahuan yang mengherankan, kekhilafan, atau tak mau tahu. Bedanya cuma pada kadar dan durasi. Karena umumnya goblok itu jarang permanen. Ada yang gobloknya 5 menit karena sein kiri belok kanan misalnya, tapi juga ada yang tahunan. Yang terakhir ini contohnya sudah terbukti sering ditipu dan dibohongi, masih saja tetap percaya dan menyebutnya orang baik. Ini goblok yang hampir permanen. Gobloknya mirip bawaan bakat alam yang dipelihara dengan tekun. Tingkatan goblok seperti ini berbahaya karena bukan tidak tahu apa-apa, tapi tidak tahu kalau dia tidak tahu. Ini adalah level paling rendah dari jendela Johari.
Kita jadi bertanya, betulkah ada pakar atau profesor yang goblok seperti kata Prabowo? Jawabannya adalah bisa jadi. Saya pernah menemukan seorang profesor yang menurut hitungan saya agak goblok. Pendapatnya disanggah, argumennya dibantah langsung marah, otomatis memasang ego pertahanan diri “saya ini guru besar, kamu sampai di mana belajarnya?” Ini bisa kita kategorikan goblok yang emosional.
Tapi menyebut orang yang mengkritik kebijakan sebagai pakar yang goblok jelas adalah lontaran dari orang yang sebenarnya bisa jadi juga goblok. Karena seperti halnya ada profesor yang goblok, demikian pula presiden. Banyak presiden yang juga goblok kata Mahfud MD. Saya sependaknya dengannya.
Jadi, goblok bisa menimpa siapa saja. Bedanya hanya soal frekuensi, ada yang musiman, bawaan, atau kadang juga karena mata pencaharian. Yang terakhir ini adalah laku para penjilat. Rela menggoblokkan diri demi perut atau tujuan-tujuan fragmatis.
Maka, mari periksa sekitar atau mengambil cermin diri. Jangan-jangan kita pun telah jatuh pada kategori goblok. Ciri-cirinya gampang dikenali. Bersuara paling kencang, berkomentar paling depan. Argumentasi lemah tapi paling kencang urat leher. Semua orang salah, hanya dia yang benar, padahal modalnya cuma muka tembok tak tahu malu dan rasa percaya diri yang kelewatan.
Satu lagi, orang goblok itu konsisten. Sudah dikasih tahu jalan, tetap memilih jalan yang salah, pas terjatuh, jalan yang disalahkan. Orang goblok juga kuat. Jatuh 10 kali di lubang yang sama, tetap bilang lubangnya yang salah! Dan yang paling ajaib, orang goblok tidak pernah merasa goblok. Dia merasa korban konspirasi orang lain, berpikir sebagai korban keadaan. Padahal masalahnya satu, dia menolak untuk berhenti jadi goblok.
Begitu mungkin.
*) Pemerhati sosial, lahir di Wajo Selatan (Andi Ade Lepu)
