BREAKING NEWS

MERAYAKAN KETERJAJAHAN


INDEPENDEN.CO.ID

Oleh: Andi Ade Lepu : 

Hari ini masih suasana 17 Agustus. Bangsa yang kadang riang gembira, tetapi lebih sering diuji oleh nasib ini, kembali berupaya menaikkan kadar kebahagiaannya dengan memperingati apa yang kita sebut sebagai Hari Kemerdekaan. Sebuah hari yang setiap tahun padanya kita kibarkan bendera, berbaris di lapangan, dan menggelar banyak lomba-lomba.

Nah, dari sekian banyak lomba tujuhbelasan, tampaknya tarik tambang adalah yang paling dekat dengan spirit perang. Ada banyak unsur di sana: adu kekuatan, strategi, solidaritas, teriakan, dan keringat perjuangan. Mungkin bisa kita sepakat lomba ini paling heroik dibanding misalnya lomba makan kerupuk, joget balon, gendong istri, atau lari karung.

Saya penasaran dengannya. Masuk ChatGPT mengetik sejarah tarik tambang. Enter.

Ternyata, olahraga ini sudah berumur ribuan tahun. Jejaknya telah 2.800 tahun di China, India, hingga Eropa. Yang menarik adalah tarik tambang ini dibawa dan diperkenalkan oleh Belanda (Hindia Belanda).

Jadi, lomba adu tarik ini dibawa oleh penjajah ke Indonesia, lalu ditiru orang Indonesia untuk memperingati merdeka dari si pembawa tarik tambang yang disebut penjajah itu. Hehe ada lucu-lucunya.

Tapi sebenarnya, ini bisa menunjukkan betapa banyak sisi hubungan kita dengan Belanda. Tak salah sesekali kita perlu berterima kasih atas apa yang telah diwariskan kepada kita: wilayah negara, sistem hukum, birokrasi, gerbang pengetahuan, infrastruktur, dasar-dasar pertahanan militer, internasionalisme, dan masih banyak lagi. Belanda adalah peletak dasar teritori negara Indonesia.

Hubungan kita dengan Belanda rupanya jauh lebih kompleks daripada sekadar hubungan antara “penjajah” dan “yang dijajah”. Ada tukar tambah, ada luka, ada eksploitasi, tetapi ada pula institusi dan infrastruktur yang kemudian menjadi bagian dari negara Indonesia.

Sejarah memang lebih rumit daripada spanduk tujuhbelasan. Dari definisi filosofi historis tarik tambang ini muncul pertanyaan yang lebih menarik: Siapa sebenarnya penjajah negeri ini dalam pengertian sesungguhnya?

Apakah penjajah hanya orang asing yang datang dengan kapal, membawa senjata, lalu memasang bendera di tanah kita? Atau jangan-jangan, definisi penjajahan harus diperbarui?

Penjajah adalah mereka yang mengatasnamakan negara untuk memerah rakyat tanpa henti. Pajak boleh disebut penerimaan negara, rente bisa diberi nama investasi, dan kebijakan yang mencekik dapat saja dipresentasikan dengan pidato yang menggelegar.

Penjajah adalah mereka yang memproduksi kebohongan secara massal, pagi dele, sorenya tempe. Citra dibuat mengkilap dalam tipuan representasi, statistik dipoles jadi alat menipu, kritik dianggap gangguan londo ireng, sementara keadilan dan hukum pelan-pelan dimasukkan ke gudang arsip.

Penjajah adalah mereka yang membangun kronisme ekonomi melalui utang yang menumpuk puluhan ribu triliun lalu menyebutnya demi kesejahteraan.

Penjajah adalah mereka yang mengatakan Indonesia terang benderang, sementara pelita harapan rakyat satu per satu padam. Gelap keseluruhan.

Penjajah adalah mereka yang membuka pintu selebar-lebarnya bagi asing dan aseng untuk berpesta, tetapi menyuruh anak-anak pribumi mengencangkan ikat pinggang menunggu kesempatan yang tak kunjung datang.

Penjajah adalah mereka yang membuat rakyat sibuk bertengkar satu sama lain demi menutupi kepalsuan ijazah agar tidak sempat bertanya: siapa sebenarnya yang sedang menikmati hasil pertengkaran itu?

Dan mungkin yang paling berbahaya: penjajah adalah mereka yang berhasil membuat rakyat merasa merdeka secara artifisial, sementara rakyat perlahan kehilangan kemampuan untuk menyuapi mulut sendiri.

Maka, pada 17 Agustus ini, mungkin kita perlu sedikit mengubah cara merayakan kemerdekaan.

Tarik tambang tetaplah tarik tambang. Tarik sekuat-kuatnya. Tetapi jangan sampai setelah lomba selesai kita baru sadar bahwa yang kita tarik selama ini bukanlah tambang, melainkan leher rakyat sendiri yang tercekik oleh durjana kekuasaan yang menerabas.

Demikianlah, kita perlu sesekali merayakan keterjajahan. Bukan karena kita merindukannya, tapi untuk mengingat bahwa penjajahan tidak selalu datang dengan senapan, meriam, dan kapal perang. Kadang ia datang dengan jas, Iming-iming makan gratis, Kadang juga dengan mobil dinas, koperasi di sudut-sudut kampung, atau kadang dengan slogan, kadang dengan baliho. Bahkan terkadang lagi dengan kalimat “demi rakyat” di mulutnya yang penuh kepalsuan.

Merjajah..!!

Peneliti di The Center of Sulawesi’s Study (CSS)