KEMARAU DAN PENGAKUAN DOSA (Sebuah Kontemplasi Kesadaran Akan Dosa Bangsa)
INDEPENDEN.CO.ID
KEMARAU DAN PENGAKUAN DOSA (Sebuah Kontemplasi Kesadaran Akan Dosa Bangsa)
Catatan: ANDI ADE LEPU
Suatu hari Andalusia dilanda kekeringan panjang. Hujan tidak turun berbulan-bulan, sungai kering, tanaman mati, banyak terjadi kebakaran.
Khalifah Abdurrahman An-Nashir memerintahkan semua orang keluar lapangan untuk Shalat Istisqa. Shalat minta hujan.
Ribuan orang sudah berkumpul. Mereka datang dengan baju lusuh, merendahkan diri. Qadhi Mundzir naik ke atas mimbar untuk khutbah Istisqa.
Aneh, tak ada suara yang mampu diucapkannya. Ia turun dengan kepala tertunduk.
Petinggi lain naik menggantikannya. Hal sama terulang. Tak sepatah kata pun mampu terucap. Bergantian petinggi negeri naik podium. Hal sama terjadi. Semua terdiam. Lidah kelu. Semua tiba-tiba bisu.
Jamaah gelisah melihat kejadian itu. Semua mendadak menjadi gagu, sebagian mulai menangis. Dosa-dosa terbayang menumpuk, azab langit terasa memenuhi udara.
Di tengah kegentingan yang hening itu, tiba-tiba seorang pemuda gondrong dengan pakaian sederhana, yang tidak dikenal orang, naik ke atas.
Ia mengambil alih mimbar. Dan dengan suara lantang ia mengucap tahmid dan salawat. Dia tidak berkhutbah panjang. Dia hanya mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan berteriak dengan doa yang jujur:
"Yaa Rabb... hamba-hamba-Mu telah keluar meminta hujan. Jika Engkau menahan hujan karena dosa-dosa kami, maka ampunilah kami. Jika Engkau menahan karena dosaku sendiri, maka ini aku bertaubat kepada-Mu. Jangan Engkau halangi mereka karena aku!"
Tiba-tiba langit gelap dipenuhi mendung pekat. Hujan turun dgn derasnya. Orang-orang memanjatkan puji syukur di tengah air yang melimpah.
Setelah hujan turun, mereka mencari pemuda tadi. Tidak ada yang mengenalnya. Hilang begitu saja. Para ulama Andalusia berkata, itulah rijalullah - orang yang jika bersumpah atas nama Allah, doanya pasti dikabulkan. Mereka tidak populer di bumi, tapi terkenal di langit.
Di tengah kekeringan yang melanda Indonesia,, mendadak saya ingat kisah ini. Saya melihat pemimpin-pemimpin kita lidahnya kelu dari pengakuan dosa, gagu dan bisu dalam kepedulian sesama.
Tiba-tiba saya rindu akan hadirnya pemuda berbaju sederhana, yang memiliki doa lantang namun jujur, sekaligus membangunkan kita yang tertidur pulas di ranjang kemunafikan.
Wallahul muwaffiq..
*) penulis adalah pemerhati sosial, lahir di Liu, perbatasan Wajo dan Soppeng
