BREAKING NEWS

Geopolitik Global dan Ancaman Nyata bagi Kedaulatan Laut Nusantara


INDEPENDEN.CO.ID | BLITAR Kecaman Kementerian Luar Negeri China atas penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat bukan sekadar polemik diplomatik. Ia adalah penanda runtuhnya wibawa hukum internasional di hadapan kekuatan global. Ketika hukum diinjak oleh negara adidaya dan dunia memilih diam, maka laut menjadi medan pertama perebutan kuasa.

Dalam konteks ini, Nusantara tidak berada di pinggir sejarah. Nusantara adalah pusat geopolitik maritim dunia.

Menurut Bayu Sasongko, Pengamat Budaya Geopolitik Nusantara (05/01/2025), setiap fase kekacauan global selalu diikuti perebutan jalur laut.

"Bangsa kepulauan seperti Indonesia selalu diuji di saat dunia bergejolak. Laut kita bukan hanya jalur dagang, tapi ruang penentu masa depan bangsa," tegasnya.

Indonesia menguasai ALKI, penghubung Hindia–Pasifik, serta jalur energi dan logistik global. Jika hukum internasional dilemahkan, kedaulatan maritim Nusantara akan direduksi menjadi sekadar kepentingan lalu lintas global.

Kebangkitan Nusantara menuju kejayaan bukan romantisme sejarah, melainkan kesadaran geopolitik. Kejayaan Nusantara di masa lalu,Sriwijaya, Majapahit, lahir bukan dari kekuatan darat semata, tetapi dari dominasi maritim dan kedaulatan laut.

Kebangkitan hari ini berarti:

* Laut kembali menjadi pusat peradaban
* Negara hadir melindungi rakyat maritim
* Nusantara tidak tunduk pada hegemoni kekuatan global

"Kejayaan Nusantara lahir ketika laut menjadi alat persatuan dan kemakmuran, bukan medan eksploitasi," ujar Bayu.

Bung Karno menegaskan bahwa kebangkitan bangsa harus berpihak pada rakyat kecil. Dalam konteks maritim, Marhaenisme adalah keberpihakan pada nelayan, pelaut, dan masyarakat pesisir.

Marhaenisme maritim berarti:

* Laut dikelola negara untuk kesejahteraan rakyat
* Rakyat maritim sebagai subjek pembangunan
* Penolakan terhadap kolonialisme gaya baru di laut

Tanpa Marhaen yang berdaulat di laut, kebangkitan hanya akan menjadi jargon elite.

Asta Cita Prabowo–Gibran memberi kerangka kebijakan bagi kebangkitan Nusantara:

* Kedaulatan nasional laut sebagai garis depan
* Kemandirian ekonomi ekonomi maritim rakyat
* Pertahanan kuat penguasaan wilayah laut
* Peran global Indonesia berbasis geopolitik maritim

Asta Cita menegaskan bahwa kejayaan bangsa mustahil dicapai tanpa kedaulatan laut. Indonesia kini berada di titik penentuan sejarah.
Jika laut dikuasai, Nusantara bangkit. Jika laut diabaikan, Nusantara kehilangan masa depan.

Kebangkitan Nusantara menuju kejayaan adalah keberanian politik untuk berdiri tegak di laut sendiri, menolak dominasi asing, dan menegakkan keadilan sosial bagi rakyat maritim.

Sebagaimana hukum sejarah bangsa kepulauan:

Siapa menguasai lautnya, ia berdaulat. Siapa memuliakan rakyat maritimnya, ia berjaya. Dan siapa menjaga Nusantara, ia menulis sejarahnya sendiri.(sa/by)